A.
SEJARAH
KHALIFAH DINASTI UMAYYAH
Sejarah berdirinya
Dinasti Umayyah berasal dari nama Umayyah bin ‘Abdul Syams bin Abdul Manaf,
yaitu salah seorang dari pemimpin kabilah Quraisy pada zaman jahiliyah. Bani
Umayyah maru masuk Islam pada Fathul Makah. Memasuki tahun ke 40 H/660 M,
Pertikaian politik terjadi dikalangan umat Islam, puncaknya adalah ketika
terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Setelah Khalifah terbunuh, umat Islam
di wilayah Iraq mengangkat al-Hasan putra tertua Ali sebagai Khalifah yang sah.
Sementara itu Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagi gubernur propinsi Suriah
(Damaskus) juga menobatkan dirinya sebagai Khalifah. Namun karena Hasan
ternyata lemah sementara Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertambah kuat, maka Hasan
bin Ali menyerahkan pemerintahannya kepada Mu’awiyyah bin Abi Sufyan.
Mu’awiyah merupakan
pendiri dinasti Bani Umayyah. Karier politik Mu’awiyah mulai meningkat pada
masa pemerintahan Umar bin Khattab, setelah kematian Yazid bin Abi Sufyan pada
peperangan Yrmuk, Mu’awiyah diangkat menjadi kepala di sebuah kota di Syria. Karena
sukses memimpinya, menjadi gubernur Syria oleh Khalifah Umar.
Mu’awiyah selama menjabat sebagai gubernur Syria, giat melancarkan perluasan
wilayah kekuasaan Islam sampai perbatasan wilayah kekuasaan Bizantine. Pada
masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, mu’awiyah terlibat konflik
dengan Khalifah Ali untukmempertahankan kedudukannya sebagai gubernur Syria.
Sejak saat itu Mu’awiyah mulai berambisi untuk menjadi Khalifah dengan
mendirikan dinasti Umayyah. Setelah menurunkan Hasan Ibn Ali, Mu’awiyah menjadi
penguasa seluruh imperium Islam,dan menaklukan Afrika Utara merupakan peristiwa
penting dan bersejarah selama masa kekuasaannya.
B.
SISTEM
PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH
Muawiyah bin Abi Sufyan
menjadi Khalifah pertama dinasti Bani Umayyah setelah Hasan bin Ali bin Abu
Thalib menyerahkan keKhalifahannya kepada Muawiyah. Sebelumnya, Muawiyah
menjabat sebagai gubernur Syiria. Selama berkuasa di Syiria, Muawiyah
mengandalkan orang-orang Syiria dalam mempeluas batas wilayah Islam. Ia mampu
membentuk pasukan Syria menjadi satu kekuatan militer Islam yang terorganisir
dan berdisiplin tinggi. ia membangun sebuah Negara yang stabil dan
terorganisir. Dalam pengelolaan pemerintahan, Muawiyah mendirikan beberapa
departemen yaitu pertama, diwanulkhatam yang fungsinya adalah mencatat semua
peraturan yang dikeluarkan oleh Khalifah. Kedua, diwanulbarid yang fungsinya
adalah memberi tahu pemerintah pusat tentang perkembangan yang terjadi di semua
provinsi.
Pada masa Muawiyah bin
Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat Monarchiheridetis (kepemimpinan
secara turun-temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh
rakyatnya untuk menyatakan setia Tterhadap anaknya yaitu Yazid bin Mu’awiyah.
Pada 679M Mu’awiyah menunjuk putranya Yazid untuk menjadi penerusnya. Abu
Sufyan menerapkan sistem monarki dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di
Persia dan Byzantium. Dalam perkembangan selanjutnya setiap khalifah menobatkan
seorang anak atau kerabat sukunya yang dipandang sesuai untuk menjadi
penerusnya. Sistem yang diterapkan Mu’awiyah mengakhiri bentuk demokrasi.
Kekhalifahan menjadi Monarchiheridetis (kerajaan turun temurun), yang di
peroleh tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak.
C.
KHALIFAH BANI
UMAYYAH
Dinasti Bani Umayyah berkuasa selama 90 tahun dari tahun
41-132 H atau 661-750 M. Selama dinasti Bani Umayyah terdapat empat belas
khalifah antara lain:
1. Muawiyah bin Abu Sufyan (41-60 H / 661-680 M)
Nama lengkapnya
Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abd Syams bin Abdul Manaf,
biasa dipanggil Abu Abdurrahman. Ia masyhur dengan Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia
lahir di Mekkah tahun 20 sebelum hijrah. Ayahnya adalah Abu Sufyan, dan ibunya
adalah Hindun binti Utbah. Ia adalah sosok yang terkenal fasih, penyabar,
berwibawa, cerdas, cerdik, badannya tinggi besar, dan kulitnya putih. Dia masuk
Islam bersama ayah, ibu dan saudaranya Yazid pada saat pembukaan kota Makkah
tahun 8 H. Ia pernah ikut perang Hunain dan ia adalah seorang juru tulis
Al-Qur’an. Karir politiknya diawali ketika Umar bin Khattab pernah menugaskan
sebagai gubernur Yordania dan pada masa Utsman bin Affan, dia ditugaskan
menjadi gubernur Syiria. Muawiyah menjadi Khalifah pada tahun 41 H setelah
Hasan bin Ali menyerahkan Khalifah kepadanya.
Muawiyah bin Abi Sufyan
mendirikan dinasti Bani Umayyah dan sebagai Khalifah pertama. Ia memindahkan
ibukota dari Madinah al-Munawarah ke kota Damaskus dalam wilayah Syiria. Pada
masa pemerintahannya, ia melanjutkan perluasan wilayah kekuasaan Islam yang
terhenti pada masa Khalifah Usman dan Ali. Disamping itu ia juga mengatur
tentara dengan cara baru dengan meniru aturan yang ditetapkan oleh aturan
tentara byzantium. membangun administrasi pemerintahan dan juga menetapkan
aturan kiriman pos. Muawiyah bin Abu Sufyan menerapkan sistem monarchiheridetis
(kepemimpinan secara turun temurun). Ia menunjuk anaknya, Yazid bin Mu’awiyah sebagai
penerusnya. Ia mengadopsi dari sistem monarki yang ada di Persia dan byzantium..
Muawiyah bin Abu Sufyan
berkuasa selama 20 tahun. Ia meninggal Dunia dalam usia 80 tahun dan dimakamkan
di Damaskus di pemakaman Bab Al-Shagier.
2. Yazid bin Muawiyah (60-64 H / 680-683 M)
Nama lengkapnya Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan, ia
dilahirkan pada tanggan 23 Juli 645M. Pada masa keKhalifahan ayahnya, beliau
menjadi seorang pangglima yang cukup penting. Pada tahun 668 M, Khalifah
Muawiyah mengirim pasukan dibawah pimpinan Yazid bin Mu’awiyah untuk
melawankekaisaran Byzantium. Yazid mencapai Chalcedon dan mengambil alih kota
penting Byzantium, Amorion. Meskipun kota tersebut
direbut kembali, pasukan arab kemudian menyerang Chartago dan Sisilia pada
tabun 669 M. Pada tahun 670 M, pasukan Arab mencapai Siprus dan mendirikan
pertahanan disana untuk menyerang jantung Byzantium. Armada Yazid menaklukkan
Smyrna dan kota pesisirlainnya pada tahun 672M.
Khalifah Mu’awiyah wafat pada tanggal 6 Mei 680M. Yazid
bin Mu’awiyah menjadi Khalifah selanjutnya. Yazid menjabat Khalifah dalam usia
34 tahun. Pengangkatnyan berdasarkan kebijakan Khalifah Muawiyah menerapkan sistem
Monarki. Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh dimadinah tidak mau menyatakan
setia kepadanya. Ia kemudian mengirim surat kepada Gubernur Madinah, memintanya
untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya.
Selama berkuasa, Yazid bin Mu’awiyah melanjutkan
kebijakan ayahnya dan menggaji banyak orang yang membantunya. Ia memperkuat
struktur administrasi Negara dan memperbaiki pertahanan militer Syiria, basis
kekuatan Bani Umayyah. Sistem keuangan diperbaiki. Ia mengurangi pajak beberapa
kelompok Kristen dan menghapuskan konsesi pajak yang ditanggung orang-orang
Samara sebagai hadiah untuk pertolongan yang telah disumbangkan di hari-hari
awal penaklukan Arab. Ia juga membayar perhatian berarti pada pertanian dan
memperbaiki sistem irigasi di oasis Damaskus. Ia meninggal pada tahun 64 H/683
M dalam usia 38 tahun dan masa pemerintahannya ialah tiga tahun dan enam bulan.
Kemudian kekhalifahan turun kepada anaknya, Muawiyah bin Yazid.
3. Muawiyah bin Yazid (64-64 H / 683-683 M)
Muawiyah bin Yazid adalah seorang pemuda yang tampan.
Dia disebut juga Abu Abdurrahman, ada juga yang menyabutnya Abu Yazid dan Abu
Laila. Beliau anak Yazid yang lemah dan sakit-sakitan,disamping itu dia adalah
seorang ahli Kimia pada masa pemerintahan Kakeknya Muawiyah bin Abu Sufyan.
Rabiul Awal tahun 64 Hijriah atau berkenaan tahun 683 M.
Muawiyah bin Yazid menjadi khalifah atas dasar wasiat
ayahnya pada bulan rabiul awal tahun 64 Hijriah atau berkenaan tahun 683M.
Muawiyah bin Yazid diangkat menjadi khalifah pada usia 23 tahun. Ia adalah
pemuda yang shalih. Ketika dia diangkat menjadi Khalifah dia sedang menderita
sakit. Sakitnya semakin keras, akhirnya dia meninggal dunia. Dia bahkan tidak
pernah keluar pintu sejak dia diangkat menjadi Khalifah. Dia belum sempat
melakukan apa-apa,dan belum pernah menjadi imam shalat untuk
rakyatnya. Ada yang mengatakan bahwa masa keKhalifahannya sekitar 40 hari ada
pula yang mengatakan dia menjadi Khalifah selama 2 bulan,ada yang mengatakan
juga 3 bulan dan ada juga 6 bulan.
4. Marwan bin Hakam (64-65 H / 684-685 M)
Nama lengkapnya Marwan bin Hakam bin Abul ‘Ash. Ia
merupakan khalifah ke empat dinasti bani umayyah.menurut silsilah, dia
merupakan cucu dari Abul ‘Ash yang juga merupakan kakek dari Usman bin Affan.
Setelah terputusnya keturunan Muawiyyah di kekuasaan Muawiyah bin Yazid maka
kursi kekuasaan beralih ke bani marwan setelah keluarga besar Umayyah
mengangkatnya sebagai Khalifah. Karena mereka menganggap Marwan bin Hakam
adalah orang yang tepat untuk mengendalikan kekuasaan karena pengalamanya.
ketika itu kondisi tidak stabil dan banyak terjadi perecahan ditubuh bangsa
Arab.
Pada Masa Khalifah Muawiyyah bin Abu Sufyan, Marwan bin
Hakam diangkat menjadi gubernur di Madinah. Pada masa inilah, Marwan diserahi
jabatan gubernur untuk wilayah Hijaz yang berkedudukan Madinah menyatakan
dukungan kepada Abdullah bin Zubair, Marwan melarikan diri ke Damaskus.
Pertentangan antara pihak Abdullah bin Zubair dan Marwan bin Hakam mencapai
puncaknya pada Perang Marju Rahith yang terjadi pada 65 H. Pada peperangan ini
pasukann Abdullah bin Zubair mengalami kekalahan cukup telak. Penduduk wilayah
Mesir dan Libya yang semula berpihak padanya, mengangkat baiat atas marwan.
Namun, wilayah Hijaz, Irak dan Iran tetap tunduk kepada Abdullah bin Zubair.
Dengan demikian, pada masa itu wilayah Islam terpecah
menjadi dua bagian. Daerah Hijaz dan sekitarnya termasuk Makkah dan Madinah
tunduk kepada Abdullah bin Zubair. Sedangkan wilayah Syria berada dalam
kekuasaan Marwan bin Hakam. Untuk mengukuhkan jabatan keKhalifahannya itu,
Marwan bin Hakam yang sudah berusia 63 tahun itu mengawini Ummu Khalid, janda
Yazid bin Muawiyah. Perkawinan yang tidak seimbang itu sangat kental aroma
politik. Dengan mengawini Ummu Khalid, Marwan bermaksud mengawini Khalid, putra
termuda Yazid dari tuntutan khalifah. Marwan bin Hakam meninggal pada usia 63
tahun. Ia hanya menjabat sebagai Khalifah selama 9 bulan 18 hari.
5. Abdul Malik bin Marwan (65-86 H / 685-705 M)
Nama lengkapnya Abdul Malik bin Marwan bin Hakam bin
Abul ‘Ash. Ia dilantik sebagai Khalifah setelah kematian ayahnya, pada tahun
685 M. Di bawah kekuasaan Abdul Malik, kerajaan Umayyah mencapai kekuasaan dan
kemulian. Ia terpandang sebagai Khalifah yang perkasa dan negarawan yang cakap
dan berhasil memulihkan kembali kesatuan Dunia Islam dari para pemberontak.
Dalam ekspansi ke Timur ini, Khalifah Abdul Malik bin Marwan melanjutkan
peninggalan ayahnya. Ia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil
menundukkan Balkanabad. Bukhara, Khwarezmia, Ferghana dan Samarkhand.
Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai
Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Multan. abdul malik bin marwan
mengbah mata uang Byzantium dan Persia
dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak
uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab.
Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan
administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi
administrasi pemerintahan Islam. Pada masa Abdul Malik bin Marwan, Dinasti bani
Umayyah dapat mencapai puncak kejayaannya. Ia meninggal pada tahun 705 M dalam
usia yang ke-60 tahun. Ia meninggalkan karya-karya terbesar di dalam sejarah
Islam. Masa pemerintahannya berlangsung selama 21 tahun, 8 bulan.
6. Walid bin Abdul Malik (86-96 H / 705-715 M)
Nama lengkapnya Walid bin Abdul Malik bin Marwan bin
Hakam bin Abul ‘Ash. Masa pemerintahan Walid bin Malik adalah masa ketentraman,
kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa
pemerintahannya tercatat suatu peristiwa besar, yaitu perluasan wilayah
kekuasaan dari Afrika Utara menuju wilayah Barat daya, benua Eropa pada tahun
711 M. Perluasan ke arah barat dipimpin oleh panglima Islam, Thariq bin Ziyad.
Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad dengan pasukannya
menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa,
dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal
Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi
sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordoba, dengan cepatnya dapat
dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo
yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordoba. Kemudian
pasukan Islam di bawah pimpinan Musa bin Nushair juga berhasil menaklukkan
Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa
kerajaan Goth, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo.
Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol,
termasuk bagian utaranya, mulai dari zaragoza sampai navarre. Pasukan Islam
dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama
menderita akibat kekejaman penguasa. Selain melakukan perluasan wilayah
kekuasaan Islam, Walid juga melakukan pembangunan besar-besaran selama masa
pemerintahannya untuk kemakmuran rakyatnya. Khalifah Walid bin Abdul Malik
meninggalkan nama yang sangat harum dalam sejarah Dinasti Bani Umayyah dan
merupakan puncak kebesaran Daulah tersebut.
7. Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H / 715-717 M)
Nama lengkapnya Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan bin
Hakam bin Ash, panggilanya Abu Ayub. Lahir di Madinah pada tahun 54 H. Ia
merupakan saudara dari Walid bin Abdul Malik, khalifah sebelumnya. Dia diangkat
sebagai Khalifah pada tahun 96 H pada usia 42 tahun. Menjelang saat terakhir
pemerintahannya, ia memanggil gubernur wilayah Hijaz yaitu Umar bin Abdul Azis
yang kemudian menjadi penasehatnya dan memegang jabatan Wazir besar.
Ia menunjuk Umar bin Abdul Azis sebagai penerusnya dan
Yazid bin Abdul Malik sebagai Khalifah setelah Umar bin Abdul Azis. masa pemerintahannya berlangsung selama 2
tahun, 8 bulan.
8. Umar bin Abdul-Aziz (99-101 H / 717-720 M)
Nama lengkapnya Umar bin Abdul Azis bin Marwan bin
Hakam bin Abdul ‘Ash. Ia merupakan sepupuh khalifah sebelumnya, Sulaeman bin
Abdul Malik. Ia menjabat sebagai khalifah pada usia 37 tahun. Ia terkenal adil
dan sederhana. Ia
ingin mengembalikan corak pemerintahan seperti zaman Khulafaurrasyidin.
Pemerintahan Umar meninggalkan semua kemegahan dunia yang selalu ditunjukkan
oleh orang Bani Umayyah.
Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, ia
berhasil menjalin hubungan baik dengan Syi’ah. Ia juga memberi kebebasan kepada
penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya.
Kedudukan mawali (orang Islam yang bukan dari Arab) disejajarkan dengan Muslim
Arab. Pemerintahannya membuka suatu pertanda yang membahagiakan bagi rakyat.
Ketakwaan dan kesalehannya patut menjadi teladan. Ia selalu berusaha meningkatkan
kesejahteraan rakyatnya. Ia meninggal pada tahun 720 M dalam usia 39 tahun,
dimakamkan di Deir Simon.
9. Yazid bin Abdul-Malik (101-105 H / 720-724 M)
Nama lengkapnya Yazid bin Abdul Malik bin Marwan bin
Hakam bin Abdul ‘Ash. Ia merupakan sepupu khalifah sebelumnya, umar bin abdul
azis. Ia menjabat Khalifah kesembilan Daulah Umayyah pada usia 36 tahun.
Khalifah yang sering dipanggil dengan sebutan Abu Khalid ini lahir pada 71 H.
Ia menjabat khalifah atas wasiat saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik. Ia
dilantik pada bulan Rajab 101 H. Ia mewarisi Dinasti Bani Umayyah dalam keadaan
aman dan tenteram. Pada
awal masa pemerintahannya Yazid bertindak menuruti kebijakan khalifah Umar bin
Abdul Azis sebelumnya, namun tidaak berlangsung lama, setelah itu terjadi
perubahan. Karena banyak penasihat yang tidak setuju dengan kebijakan positif
yang diterapkan Umar bin Abdul Azi.
Sebelum Yazid meninggal, sempat terjadikonflik antara
dirinya dan saudaranya, Hisyam bin Abdul Malik. Namun hubungan keduanya baik
kembali setelah Hisyam lebih banyak mendampingi sang khalifah hingga wafat. Ia
meninggal dunia pada usia 40 tahun. Masa pemerintahannya hanya berkisar 4 tahun
1 bulan.
10. Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H / 724-743 M)
Nama lengkapnya Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan bin
Hakam bin Abul Ash. . Ia menjabat sebagai Khalifah pada usia yang ke 35 tahun.
Ia terkenal negarawan yang cakap dan ahli strategi militer. Pada masa
pemerintahannya muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi
pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan ini berasal dari kalangan Bani Hasyim yang
didukung oleh golongan mawali dan merupakan ancaman yang sangat serius. Dalam
perkembangan selanjutnya, kekuatan baru ini mampu menggulingkan Dinasti Umayyah
dan menggantikannya dengan Dinasti baru, Bani Abbas.
Pemerintahan Hisyam yang lunak dan jujur menyumbangkan
jasa yang banyak untuk pemulihan keamanan dan kemakmuran, tetapi semua
kebajikannya tidak bisa membayar kesalahan-kesalahan para pendahulunya, karena
gerakan oposisi terlalu kuat, sehingga Khalifah tidak mampu mematahkannya.
Meskipun demikian, pada masa pemerintahan Khalifah
Hisyam kebudayaan dan kesusastraan Arab serta lalu lintas dagang mengalami
kemajuan. Dua tahun sesudah penaklukan pulau Sisily pada tahun 743 M, ia wafat
dalam usia 55 tahun. Masa pemerintahannya berlangsung selama 19 tahun, 9 bulan.
Sepeninggal Hisyam, khalifah-Khalifah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga
bermoral buruk. Hal ini makin mempercepat runtuhnya Daulah Bani Ummayyah.
11. Walid bin Yazid bin Abdul Malik (125-126 H /
743-744 M)
nama lengkapnya Walid bin Yazid bin Abdul Malik,
Khalifah kesembilan dinasti Bani Umayyah. Pada masa pemerintahnya, Dinasti
Umayyah mengalami kemunduran. Ia memiliki prilaku buruk dan suka melanggar
norma agama. Kalangan keluarga sendiri benci padanya. Dan ia mati terbunuh.
Adapun kebijakan yang paling utama yang dilakukan oleh
Walid bin Yazid ialah melipatkan bantuan sosial bagi pemeliharaan oang orang
buta dan lanjut usia yang tidak mempunyai famili untuk merawatnya. Ia
menetapkan anggaran khusus untuk pembiayaan tersebut dan menyediakan perawat
untuk masing-masing orang. Masa pemerintahannya berlangsung selama 1 tahun, 2
bulan. Dia wafat dalam usia 40 tahun.
12. Yazid bin Walid bin Abdul Malik (126-127 H/ 744 M)
Nama lengkapnya Yazid bin Walid bin Abdul Malik.
Pemerintah Yazid bin Wakidtidak mendapat dukungan dari rakyat, karena
kebijakannya suka mengurangi anggaran belanja negara. Masa pemerintahannya
tidak stabil dan banyak pemberontakan. Masa pemerintahannya berlangsung selama
16 bulan. Dia wafat dalam usia 46 tahun.
13. Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik (127 H / 744 M) nama
lengkapnya Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik, Khalifah sebelumnya. Dia diangkat
menjadi Khalifah tidak memperoleh suara bulat di dalam lingkungan keluarga Bani
Umayyah dan rakyatnya. Kerana itu, keadaan negara semakin kacau dengan
munculnya beberapa pemberontak. Ia menggerakkan pasukan besar berkekuatan
80.000 orang dari Arnenia menuju Syiria. Ia dengan suka rela mengundurkan
dirinya dari jabatan Khalifah dan mengangkat baiat terhadap Marwan ibn
Muhammad. Dia memerintah selama 3 bulan dan wafat pada tahun 132 H.
14. Marwan bin Muhammad (127-133 H / 744-750 M)
Nama lengkap Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Ia adalah cucu dari
Khalifah keempat bani Umayyah, Marwan bin Hakam dan keponakan Khalifah kelima,
Abdul Malik bin Marwan. Beliau seorang ahli negara yang bijaksana dan seorang
pahlawan. Beberapa pemberontak dapat ditumpas, tetapi dia tidak mampu mengahadapi
gerakan Bani Abbasiyah dengan pendukung yang kuat. Marwan bin Muhammad
melarikan diri ke Hurah, terus ke Damaskus. Namun Abdullah bin Ali yang
ditugaskan membunuh Marwan oleh Abbas As Syaffah selalu mengejarnya. akhirnya
sampailah Marwan di Mesir. Di Bushair, daerah al Fayyun Mesir, dia mati
terbunuh oleh Shalih bin Ali, orang yang menerima penyerahan tugas dari
Abdullah. Marwan terbunuh pada tanggal 27 Dzulhijjah 132H/ 5 Agustus 750 M.
Dengan demikian berakhirlah dinasti Bani Umayyah, dan kekuasaan selanjutnya
dipegang oleh Bani Abbasiyah.
D.
Faktor-Faktor
Penyebab Kemunduran Dinasti Umayyah
Kebesaran yang dibangun oleh Daulah Bani Umayyah
ternyata tidak dapat menahan kemunduran dinasti yang berkuasa hampir satu abad
ini, hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor yang kemudian mengantarkan
pada titik kehancuran. Diantara fakto-faktor tersebut adalah:
1. Terjadinya pertentangan keras antara kelompok suku
Arab Utara (Irak) yang disebut Mudariyah dan suku Arab Selatan (Suriah)
Himyariyah, pertentangan antara kedua kelompok tersebut mencapai puncaknya pada
masa Dinasti Umayyah karena para Khalifah cenderung berpihak pada satu etnis
kelompok.
2. Ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam non Arab.
Mereka yang merupakan pendatang baru dari kalangan bangsa-bangsa yang
dikalahkan mendapat sebutan “Mawali”, suatu status yang menggambarakan
inferioritas di tengah-tengah keangkuhan orang-orang Arab yang mendapat
fasilitas dari penguasa Umayyah. Mereka bersama-sama orang Arab mengalami
beratnya peperangan dan bahkan di atas rata-rata orang Arab, tetapi harapan
mereka untuk mendapatkan tunjangan dan hak-hak bernegara tidak dikabulkan.
Seperti tunjangan tahunan yang diberikan kepada Mawali ini jumlahnya jauh lebih
kecil dibanding tunjangan yang dibayarkan kepada orang Arab.
3. konflik konflik politik yang melatarbelakangi
terbentuknya Daulah Umayyah. Kaum Syi`ah dan Khawarij terus berkembang menjadi
gerakan oposisi yang kuat dan sewaktu-waktu dapat mengancam keutuhan kekuasaan
Umayyah. Disamping menguatnya kaum Abbasiyah pada masa akhir-akhir kekuasaan
Bani Umayyah yang semula tidak berambisi untuk merebut kekuasaan, bahkan dapat
menggeser kedudukan Bani Umayyah dalam memimpin umat.
4. Lemahnya pemerintahan Dinasti Bani Umayyah juga
disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak
Khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi
kekuasaan. Di samping itu, para Ulama banyak yang kecewa karena perhatian
penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
5. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti
Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan
Abbas bin Abdul Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim
dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.